101150
“Kode Error: Rena, Warisan 5000 tahun”

“Kode Error: Rena, warisan 5000 tahun”

By: Meliani Annisa 

BAGIAN 2

– – – – – – – – – – – – ★ – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – ★ – – – – – – – – – – – – – 

Bab 11

  Saat setiap retakan itu meledak, Rena pasti merasakan sakit yang luar biasa tapi, disaat retakan itu stabil, rasa sakit Rena juga ikut stabil dan mereda. Sudah 5 kali retakan itu meledak, Rena terus-menerus merasakan kesakitan. Suatu hari kabar tentang Rena sampai pada William, William pun memutuskan untuk mengunjungi Rena.

“Ah pak William!?” – ucap Rena sambil kaget. 

“Ku dengar kau merasakan sakit yang luar biasa setiap retakan itu tidak stabil, Apa boleh aku memeriksamu?” – ucap William menunggu jawaban Rena.

“Boleh” – ucap Rena, William pun mulai memeriksa Rena, tiba-tiba ia merasakan Aura yang kuat pada belakang leher Rena.

“Rena, Apa boleh aku lihat belakang lehermu?” – tanya William.

“Boleh…” – ucap Rena sambil menyingkirkan rambutnya ke samping agar bagian lehernya belakang terlihat. Terlihat sebuah cap tanda berbentuk lingkaran yang didalamnya ada bentuk jam pasir.

“Ini bukankah cap…” 

 

Bab 12

   Cap Ephemeral adalah cap yang diberikan pada satu manusia setiap 5000 tahun. Cap ini dianggap sebagai anugerah sekaligus kesialan dari seorang Dewa, God of the Darkness, untuk satu manusia yang terpilih dan layak. Cap ini dapat menutup retakan dunia bawah untuk selama-lamanya, namun ada resiko yang harus ditanggung oleh orang yang terpilih untuk menerima cap ini. Kenapa sampai sekarang retakan itu terus-terusan meledak atau pecah karena pemilik dari cap Ephemeral tewas tanpa sebab entah itu karena kekuatan yang luar biasa atau kebetulan. William melihat Rena yang masih bertahan meskipun memiliki cap itu pun terkejut. 

“Kau… berhasil bertahan…” – ucap William dengan kaget karena ia belum pernah melihat orang yang terpilih menerima cap Ephemeral. 

“Apa?” – tanya Rena karena ia tidak tahu cap itu. William pun menjelaskan nya semua tentang cap itu, tapi tidak dengan resiko yang ditanggung.

“Rena… tolong jangan pernah beritahu siapapun kau punya cap ini… ini hanya rahasia kita dan tetua menara sihir” – ucap William sambil memberikan sebuah botol obat. 

“Ini obat yang bisa meredakan rasa sakit saat retakan itu mereda jadi diminum ya, dan ingat ini hanya rahasia kita” – ucap William, Rena pun mengangguk. Rena tahu rahasia tetaplah rahasia Sebesar apapun rasa ingin memberitahu seseorang bahwa ia mempunyai sebuah cap itu tapi ia harus tetap berjanji merahasiakan ini. 

   Beberapa hari kemudian Rena kembali bertugas seperti biasa. Tim C pun memutuskan untuk menginap di sekolah karena jarak dari sekolah dan retakan cukup dekat. Mereka menginap karena jam mereka berjaga itu jam 12.00 malam. 

“Jadi kita menginap di sekolah, Lala kau yang pilih siapa saja yang satu ruangan” – ucap Ryan sambil menunjuk Lala sebagai pemilih ruangan. Rena tau jika Lala yang memilih kamar…

  Dan Yap, Lala membuat Rena satu ruangan dengan Ryan. 

 

Bab 13

  Waktu tidur pun tiba semua orang bersiap tidur kecuali Rena. Ia tak bisa membayangkan Bagaimana dirinya tidur bersama satu ruangan dengan Ryan, tapi untungnya Rena tak sendiri ada Lala dan Leo bersama mereka satu ruangan. Saat mereka semua tertidur terjadi guncangan yang tidak terlalu keras tapi cukup untuk membuat seorang Ryan terbangun dari tidurnya. Saat Ryan membuka matanya ia melihat Rena memeluknya dalam tidur, pelukan yang erat dan hangat itu membuat Ryan berpikir untuk tidak melepaskan pelukan itu atau mendorong Rena.

  Tapi tiba-tiba suasananya canggung karena Ryan tidak pernah berpelukan dengan seorang gadis. Beberapa jam berlalu dan sekarang jam 12.00 malam waktunya tim C untuk berjaga menggantikan Tim B. Mereka semua sudah bangun dan bersiap menuju retakan. Saat sampai mereka Langsung berjaga, Ryan sedikit terluka karena pertarungan sebelumnya saat retakkan itu meledak. Regu medis belum ada yang datang Jadi Rena inisiatif untuk mengobati Ryan.

“Sudah…” – ucap Rena sambil menyimpan kembali beberapa obat yang ia pakai untuk mengobati luka Ryan. Suasana di antara mereka ya tetap Canggung. Ryan pun kembali ke regu Garda terdepan. Berjam-jam mereka menjaga sudah 2 jam mereka berjaga dan sisa 3 jam lagi. Beberapa dari mereka mulai bosan, termasuk Rena. Rena adalah orang dengan tipe yang cepat bosan.

 

Bab 14

  Di dunia bawah.

“Belum waktunya” – ucap sosok misterius. 

“Tapi Paduka! Jika lebih cepat kan kita bisa langsung menguasai dunia atas” – ucap salah satu pengikut. 

“Jika ku bilang belum maka belum! Kau ingin menentang kekuasaan ku kah!?” – ucap sosok misterius itu yang membuat pengikutnya takut.

“Tidak Paduka tidak” – ucap pengikut sosok misterius itu, jelas sekali sosok misterius itu ditakuti oleh pengikut-pengikutnya.

“Belum waktunya, Tunggu saja sampai waktunya tiba.” – ucap sosok misterius itu.

   Dunia atas(manusia).

Waktu berjaga tim C sudah selesai, terlihat Rena sedang berkemas pergi. Beberapa anggota tim D datang dan mengganggu Rena. 

“Kok bisa ya orang yang gak punya sihir di sini hahaha!” – ucap salah satu anggota tim D.

“Daripada kau punya sihir tapi auranya cuma dikit” – ucap Renal sambil berkemas jelas sekali nada bicaranya saja ada nada mengejek. 

“Apa kata mu!?” – ucap gadis itu mau memukul Rena tapi Ryan menahan tangan gadis itu.

“Jangan ganggu dia, pergi atau” – ucap Ryan dengan nada mengancam, Ryan mengencangkan genggaman nya. Gadis itu meringis, Ryan melepaskan genggaman nya. Gadis itu dan teman teman nya pergi.

“Tidak usah terima kasih, anggap saja aku berterima kasih karena sudah mengobati luka ku kemarin” – ucap Ryan sambil berjalan pergi.

 

Bab 15

  Saat pulang, di tengah perjalanan, Rena memikirkan Ryan yang menolong nya.

“Apa mungkin dia suka aku?… Apaan sih yang ku pikirkan!?” – ucap Rena tersadar akan perkataan nya. Rena melihat ke tepi laut, pemandangan yang indah.

“Aku jadi tenang…” – ucap Rena sambil berjalan pulang.

  Sementara itu, para tetua menara sihir berdiskusi Bagaimana cara menutup retakan itu, William pun angkat bicara.

“Aku menemukan orang dengan cap Ephemeral” – perkataan William membuat semua orang terdiam. 

“Apa ini sungguhan William?” – ucap salah satu dari mereka. William mengangguk. 

“Bagaimana bisa dia bertahan?” – tanya mereka. 

“Aku belum tahu tapi aku masih menyelidiki nya” – ucap William, para tetua paham dan mau menunggu hasilnya. 

“Oh iya, bagaimana dengan anak terpilih, Cakrabuana?” – tanya mereka.

“Belum ditemukan, anak itu… masih jadi misteri” – ucap William. Mereka semua pun memutuskan untuk membubarkan rapat(diskusi) dan juga memutuskan untuk menyelidiki: 

– Kenapa Rena bisa bertahan?

 – Siapa anak Cakrabuana?

“oh ya… siapa nama anak yang punya Cap Ephemeral?” – tanya salah satu dari mereka. 

“Kalian beneran mau tau?” – tanya William.

“Ya” – ucap mereka. Tanpa mereka sadari ada yang menguping pembicaraan mereka. William pun menghela nafas.

“Rena putri permata pamungkas” – ucap William dengan nada serius. Mereka semua terkejut karena mereka mengira Rena anak yang tak punya sihir sama sekali.

“Anak itu bukannya tak punya sihir!?” – ucap mereka. 

“Tapi sepertinya memang ada rahasia jadi kita selidiki dulu” – ucap William dan para tetua setuju.

 

Bab 16

  Rena sedang mengerjakan tugas, tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari pintu masuk. Ibu Rena pun membukakan pintu ternyata para penjaga menara sihir dan asisten William yaitu Astra, mereka datang seperti ada sesuatu yang harus disampaikan.

“Permisi nyonya, kami ingin memberikan surat dari menara sihir untuk Rena putri permata pamungkas, apa dia ada di dalam? Kami harus memberikan ini secara langsung” – ucap Astra. Ibu Rena langsung khawatir.

“Ia tak ada di rumah, jadi berikan saja pada ku” – ucap Ibu Rena, Astra percaya dan memberikan surat itu ke Ibu Rena. 

“Terima kasih atas kerjasamanya, kami permisi” – ucap Astra sambil pergi bersama pengawal pengawal menara sihir.

“Apa isi surat ini…” – ucap ibu Rena sambil membuka surat itu tanpa izin, ia membaca surat itu. 

“Tidak… TIDAK! Rena tak boleh tau… tak boleh” – ucap ibu Rena dengan nada getir, seperti ada ketakutan yang disembunyikan. 

“Aku… aku harus menyembunyikan ini, jangan sampai Rena tau” – ucap ibu Rena menaruh surat itu di laci penyimpanan bawah tanah. Tapi tanpa ia sadari, Rena sedang mengintip nya.

“Apa yang ibu sembunyikan…” – ucap Rena di dalam hati. Ia langsung sembunyi saat ibu nya berjalan naik ke kamar.

“Nanti… akan ku ambil surat itu” – ucap Rena sambil berjalan kembali ke kamar nya. Ia tau ada sesuatu yang disembunyikan ibu nya sampai sampai ibunya tak mau memberitahukan nya.

 

Bab 17

  Saat semua orang tertidur, Rena menyelinap ke gudang bawah tanah dan mengambil surat itu. 

“Kita kira apa isinya” – ucap Rena sambil membaca surat itu.

“Kepada Rena Putri Permata Pamungkas, aku William mengundangmu untuk menginap beberapa hari, karena aku mau melakukan sebuah tes dan juga mencari tahu kenapa kau bisa bertahan meskipun punya Cap Ephemeral. Kenapa aku juga memintamu menginap karena mungkin penyelidikan ini agak lama, lagi pula bukan hanya kamu yang ku suruh ke sini. aku mau kau datang besok pagi, atau kau akan ku jemput – Tetua menara Sihir, William” – isi surat itu, Rena membaca nya dengan serius.

“Ini surat yang penting… tapi kenapa ibu malah menyembunyikan ini…” – tanya Rena di dalam hati nya. Rena termenung. Ia tak dapat percaya bahwa ibunya menyembunyikan surat ini. 

“Apa ibu salah paham ya?” – ucap Rena sampai ia tak sengaja menjatuhkan sebuah benda yang menimbulkan suara yang cukup untuk membangunkan ibu. 

  Rena panik saat mendengar langkah kaki.

“Itu ibu…aku harus sembunyi sekarang” – ucap Rena sambil bersembunyi. Ibu masuk dan melihat lemari tempat ia menyembunyikan surat terbuka. 

“Keluar Rena… tak usah sembunyi lagi” – ucapan ibu membuat Rena keluar. 

“Ibu aku ma-” – ucapan Rena dipotong ibu.

“Tidak!” – ucap ibu dengan nada lantang, Rena terus menerus menyakinkan ibu nya.

“Tidak! Karena kau bukan anakku! Kau anak titipan orang!!” – ucap ibu, ibu langsung menutup mulut nya dengan tangan karena ia sadar bahwa ia mengungkapkan fakta yang disembunyikan. 

“Apa…” – ucap Rena tak percaya dengan apa yang ia dengarkan sekarang.

“Kau sudah dengarkan…” – ucap ibu, ia tahu ia salah membocorkan rahasia itu. 

“Tapi ibu kenapa kau menyembunyikan ini!? Ku pikir… ku pikir*hiks*” – ucap Rena sambil menahan tangisnya, ia pikir selama ini mereka adalah orang tua kandungnya tapi ternyata tidak. 

  Ibu Rena menyesal, tapi ia tak bisa memberitahu Rena lebih lanjut karena itu permintaan seseorang.

“Maafkan ibu Rena… untuk izin mu, aku mengizinkanmu pergi ke menara sihir” – ucap ibu Rena sambil tertunduk. Rena pergi ke kamar dan menyiapkan berbagai hal sambil menahan sakit karena telah di bohongi. Tiba tiba Rena melihat di pikiran nya seorang pria, menggendong anak kecil bersama seorang wanita, anak itu masih bayi kecil. Kedua orang itu tersenyum. Saat pikiran itu hilang Rena terdiam.

 

Bab 18

 “Siapa… sebenarnya mereka?” – ucap Rena terheran dengan yang ia lihat di pikiran. 

“Mungkin hanya imajinasi ku saja…” – ucap Rena sambil berkemas. Beberapa jam kemudian, ia selesai membereskan Barang barang nya.

“Besok tinggal berangkat… tapi kenapa dunia menyembunyikan fakta tentang orang tua kandung ku?” – tanya Rena meskipun ia tahu tak ada yang akan menjawab nya. Rena berganti pakaian menjadi baju tidur. 

“Waktunya tidur, Good night myself, you have done a great job” – ucap Rena sambil menutup matanya, mata yang berat itu tertutup tubuhnya menjadi rileks. 

  Rena bermimpi melihat seorang bayi perempuan yang digendong kedua orang tua nya, bayi itu tenang tak menangis. Kedua orang tua itu tersenyum dan melihat ke arah Rena, sang ibu memeluk Rena.

“Dunia memang kejam tapi ingat bahwa seseorang akan selalu berada dihatimu” – ucap sang ibu. Rena merasa tak asing dengan pelukan itu, mungkin karena ia sering di peluk ibu tiri nya, tapi pelukan ini berbeda… seperti pelukan yang pernah ia rasakan saat bayi, hangat dan tak membuat dirinya merasa sendirian. Sang ayah menaruh bayi nya di kasur mereka dan ikut memeluk Rena.

“Tunggu sampai kamu tau kebenaran nya… di luar dugaan ternyata kau tumbuh menjadi anak yang hebat” – ucap sang ayah sambil mengusap kepala Rena dengan lembut. Mimpi itu berakhir dengan Rena yang terjatuh didorong keluar mimpi.

“Jangan sedih… Permata” – ucap sang ayah memanggil nya permata. Rena terbangun dengan nafas tersengal. Rena memutuskan pergi ke menara Sihir sekarang setelah bersiap. Saat di sana ia melihat William yang menunggu nya bersama, Lala, Fahri, Leo, dan Ryan. 

“Bagaimana dengan retakan nya tuan?” – tanya Ryan.

“Sudah stabil tapi perlu penjagaan ketat, sudah lah. Ayo masuk” – ucap William sambil membuka segel pintu di menara sihir.

“Baik pak!” – ucap mereka sambil mengikuti William. Menara yang ajaib penuh penyihir penyihir profesional.

“Taruh barang barang kalian, dan temui aku di ruangan mantra” – mereka mengangguk.

 

Bab 19

  Mereka pun mulai melakukan tes setelah menaruh barang mereka masing masing. Fahri, Leo dan Lala tak menunjukkan aura yang kuat seperti milik anak terpilih, tapi aura Ryan sangat kuat.

“Untuk hari ini kita sudahi ya… Rena besok temui aku jam 9 pagi dan Ryan juga tapi jam 10 pagi” – ucap William sambil berjalan pergi. Mereka semua kembali ke kamar masing masing. Mereka lelah tapi juga gak bisa diam. 

“Aku capek… ngantuk” – Rena mulai tertidur. Ia bermimpi melihat seorang pria tua menggendong anak gadis itu. Anak gadis itu tersenyum bahagia. Tanpa tahu bahwa orang tua nya tewas. Sang kakek berusaha kuat tapi karena ia harus bekerja menafkahi anak itu hingga akhir anak itu di titipkan ke suami istri yang belum punya momongan. Sang kakek terlihat sedih tapi bangga anak itu tumbuh menjadi anak yang hebat. Saat di akhir mimpi terlihat oleh orang tua anak itu memeluk Rena lagi. Rena terbangun sambil tersengal sengal.

  Keesokan harinya Rena mendatangi William, William sudah menunggu.

“Rena, ayo masuk” – ucap William sambil membukakan nya pintu. Rena masuk.

“Setelah diteliti ternyata kau adalah keturunan tidak langsung dewa elemen, God of Wise” – ucap William. Rena terdiam, ia tak menyangka. 

“Efek nya adalah kau jadi bisa bertahan” – ucap William.

“Tapi Rena kau harus tau sesuatu… agh nanti saja ku beritahu kembali lah ke kamar mu” – William menyuruh Rena kembali ke kamar dan istirahat. Rena berjalan menuju kamar nya saat ia tak sengaja menabrak Astra. 

“Eh!? Maaf nyonya Astra” – ucap Rena panik, Astra pun tertawa kecil.

“Tak apa hehe kau baik baik saja kan?” – tanya Astra. Rena mengangguk.

“Oke, aku pergi dulu sampai nanti Rena” – ucap Astra berjalan pergi.

   Saat Rena berjalan cukup jauh. Astra berhenti menatap Rena, seperti sesuatu yang familiar.

“Anak itu… cukup menarik” – ucap Astra sambil menatap Rena lalu itu pergi membawa beberapa dokumen menara Sihir untuk di arsipkan. Beberapa menit kemudian Rena kembali ke ruangan William karena ia tak tenang, tapi apa yang dimaksud William.

“Pak William, apa yang anda maksud tapi…” – tanya Rena. William menegang.

“Jadi Rena maksudku adalah…” – ucap William sambil membuka buku sihir sejarah.

“Yang kau harus tau adalah sebuah rahasia dari cap itu” – ucap William mencari halaman sejarah cap Ephemeral. Rena takut tapi tetap tenang.

 

Bab 20

  “Begini, Rena kau tau kan kalo cap Ephemeral bisa menutup retakan untuk selama lamanya?” – ucap William, Rena mengangguk. 

“Tapi kau akan tewas” – ucap William, Rena menegang.

“Maksudnya…” – ucap Rena.

“Jika kau selesai menutup Retakan itu untuk selamanya lamanya, kau akan tewas, tubuhmu akan pecah seperti kaca dan menjadi serpihan kaca. Tapi cap itu tak akan muncul lagi” – ucap William membaca halaman buku itu. Rena bingung kenapa cap itu tak muncul lagi setelah ia menutup retakan itu.

“Kenapa cap ini tak muncul lagi?” – tanya Rena.

“Karena cap ini hanya bisa dipakai sekali makanya God of the Darkness memberikan keistimewaan pada cap ini atau menjadi kunci untuk mengunci retakan itu Rena, dan kau orang yang akan menjadi penutup jika kau mau menutup Retakan itu” – ucap William yang membuat Rena terdiam. 

  “Tapi, jika kau tak mau maka aku akan mencari cara menutup Retakan itu tanpa menggunakan mu Rena. Kau tau kan perasaan mu sendiri? Apa kau takut?” – tanya William. Rena menatap William, mata yang menunjukkan ketakutan. William memeluk Rena. 

“Pak… saya takut tapi ini demi dunia ini… lagi pula aku tak ada gunanya di dunia ini kan? Orang tua ku yang ku kira adalah orang tua kandung ku ternyata bukan orang tua ku… seseorang menitipkan ku pada mereka. Orang yang menitipkan ku tidak sayang pada ku… hingga tak mau merawatku, orang tua kandung ku, aku gak pernah melihat mereka” – ucapan Rena membuat William terdiam.

“Di dunia ini masih banyak yang sayang kamu kok Rena” – ucap William.

“Pergi lah istirahat” – ucap William, Rena pergi.

“Sampai kapan aku harus berbohong…” – ucap William. Sebuah ketukan pintu terdengar.

“Masuk” – ucap William, Ryan masuk. 

“Ryan aku mau tanya sesuatu” – ucap William. Ryan mengizinkan nya bertanya.

“Apa yang ingin kau tanya kan?” – tanya Ryan. William pun mengeluarkan beberapa berkas hasil tes Ryan kemarin. 

“Sebenarnya kau siapa…” – tanya William.

“Aku? Aku Ryan” – ucap Ryan.

“Kau anak Cakrabuana kan?” – ucap William. Ryan terdiam dan terkejut, namun tiba tiba ia tertawa yang

membuat William bingung.

“Kenapa kau tertawa” – tanya William.

“Karena aku tertangkap basah, jadi aku ketahuan ya? Hahaha” – ucap Ryan.

– – – – – – – – – – – – ★ – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – ★ – – – – – – – – – – – – –  

 

Bersambung…

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait