101150
“Kode Error: Rena, warisan 5000 tahun”

Kode Error: Rena, warisan 5000 tahun”

By: Meliani Annisa 

BAGIAN 3

– – – – – – – – – – – – ★ – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – ★ – – – – – – – – – – – – –

Bab 21

  “Jadi memang kau lah anak Cakrabuana itu” – ucap William.

“Ya… tapi Aku tidak menyangka seorang kakek-kakek umur 70 tahun dapat menebakku dalam sekali tebakan” – ucap Ryan sambil berjalan memutari William, dengan nada mengejek.

“Aku hanya menebak lewat tes kemarin, hanya kau yang menunjukkan aura yang hanya dimiliki oleh anak Cakrabuana” – ucap William, Ryan terdiam.

“Sepertinya aku terlalu melewati batas mengeluarkan aura” – gumam Ryan, William pun berdeham.

“Oke oke jadi kau mau aku ngapain?” – tanya Ryan. 

“jadi begini… kau pasti tau cap Ephemeral kan?” – ucap William dengan serius, Ryan pun mengangguk pelan. 

“Dan kau pasti tahu Rena kan? Anak yang dikabarkan tak punya sihir” – ucap tanya William. 

“Ya tapi apa hubungannya dengan cap Ephemeral” – tanya Ryan dengan ragu.

“Rena sebenarnya…” – ucap William terhenti karena keraguannya 

“Janji jangan beritahu siapa pun karena ini adalah rahasia?” – ucap William.

“Ya ya cepat kasih tau aku oy! Kakek Kakek tua” – ucap Ryan tak sabar dan deg degan.

“Janji ya janji kau ku hantam juga” – ucap William membuat kesabaran Ryan setipis harapan orang tua. 

“Ya ya, ayolah pak tua, gak usah banyak yapping deh” – ucap Ryan dengan kesabaran yang habis.

“Rena adalah pemilik cap Ephemeral” – ucapan William membuat Ryan terdiam dan tegang.

  “Bagaimana bisa!?” – tanya Ryan.

“Tidak ada yang tau tapi itu masih dalam penyelidikan” – ucap William, Ryan tau sebab dan akibat memiliki cap Ephemeral tapi ia ragu untuk memberitahu pada William. 

“T-tidak mungkin kan!? Jawab aku Kakek tua!? Ini tidak mungkin kan!! Jawab!!” – tanya Ryan seperti khawatir pada Rena. 

“Dia… tidak bisa! Dia lemah, jangan jangan… tidak… kau bercanda kan pak tua!!” – ucap Ryan sambil mencengkram pundak William. William mengangguk, Ryan terdiam sejenak.

Bab 22

  “Seperti yang kau dengar Ryan. Rena adalah pemilik cap Ephemeral abad ini, aku sudah melihat cap itu di lehernya” – ucap William.

“Ia juga setiap retakan itu meledak, pasti merasakan sakit yang luar biasa. Tapi saat retakan mereda, rasa sakitnya mereda” – ucap William.

“Tapi kan dia pasti belum tau” – ucap Ryan.

“Tidak, dia sudah tau Ryan. Aku yang menjelaskan semuanya pada Rena, Ryan” – ucap William. 

“Apa reaksinya?” – tanya Ryan, William pun menghela nafas. 

“ia seperti sudah pasrah, seperti tau kematian itu” – ucap William sambil memegang pundak Ryan.

“Tapi kenapa dia seperti itu!? Harus nya ia panik” – ucap Ryan.

“Kau khawatir ya?” – tanya William. Pipi Ryan langsung memerah.

“T-tidak!” – ucap Ryan menyangkal pernyataan William.

“Aku hanya bertanya Ryan, kau pikir aku memberi pernyataan ya? Kau suka Rena ya?” – ucap William menggoda Ryan, Ryan jadi merah padam.

“Aku gak suka dia!” – ucap Ryan.

“Halah” – ucap William.

   Tiba-tiba seorang anak kecil perempuan masuk tanpa mengetuk, membuat 2 orang itu kaget.

“Siapa!?” – tanya William.

“Ini saya tuan, Nisa!” – ucap seorang anak kecil, yaitu Nisa. Ia adalah anak yang terpilih menjadi informan milik menara sihir sekaligus anak yang dirawat oleh menara sihir. Nisa tidak memiliki masa lalu yang jelas, ia ditemukan saat umurnya 2 tahun, sekarang umur nya 6 tahun.

“Saya hanya ingin melaporkan, berkas anda sudah siap” – ucap Nisa dengan nada polos. 

“sudah berapa kali ku bilang, ketuk sebelum masuk” – ucap William sambil mengambil berkas itu. Ia mengelus kepala Nisa.

“Ya sudah pergi lah ya” – ucap William, Nisa pun mengangguk dan pergi.

“Anak itu ada yang aneh darinya atau hanya firasat ku?” – ucap Ryan dalam hati. 

“Jangan cepat menyimpulkan” – ucap Ryan dalam hati, William membangunkan nya dari lamunannya.

“Jangan melamun, istirahat sana” – ucap William, Ryan mengangguk dan pergi.

“Aku harus cari tahu dulu sebelum bertindak” – ucap Ryan.

Bab 23

  Nisa berjalan menuju ruangannya di menara sihir, tiba tiba Liana muncul. Liana adalah anak yang nasib nya juga sama seperti Nisa. Ia diperintahkan untuk menjadi penjaga perpustakaan sihir di menara sihir. Panggilan Liana adalah An.

“Nisa!!” – panggil An. Nisa menoleh.

“Ada apa An?” – tanya Nisa. 

“Aku mau bertanya…” – ucap An sambil tersenyum.

  Sementara itu,Rena…

“Agh capek banget!!” – ucap Rena sambil menjatuhkan diri nya ke kasur yang empuk. Ia mengantuk, lalu tertidur. Beberapa hari kemudian, Rena masih diperiksa.

“Bosan nya!!” – ucap Rena. 

sementara itu Ryan masih mencari-cari informasi tentang Nisa.

“Argh! Di sini informasinya hanya tentang ciri-ciri nya!!” – ucap Ryan sambil menjambak rambutnya sendiri. Ryan frustasi karena informasi tentang Nisa hanya sedikit. 

“Hanya umur dan hobby… cari di situs lain deh” – ucap Ryan sambil terus mencari. Ia akan terus mencari hingga puas. Beberapa hari kemudian ia tak pernah istirahat, paling cuma tidur 4 jam dan makan lalu kembali mencari. Beberapa orang mulai khawatir pada nya termasuk Rena.

“Anak yang tak punya masa lalu yang jelas… tempat ditemukannya di bukit belakang sekolah!?” – ucap Ryan.

Tiba tiba ada ketukan pintu.

“Tuan Ryan, saya mengantar kopi anda” – ucap seorang anak kecil.

“Masuk” – ucap Ryan, anak itu masuk.

“Makasih… oh ya nama mu siapa ya?” – tanya Ryan. 

“Nama saya Liana, sering di panggil An, mungkin anda jarang melihat saya karena saya menjaga perpustakaan sihir di sini” – ucap An.

“Oh, kamu umur berapa?” – tanya Ryan.

“8 tahun” – ucap An.

“Ada berapa anak disini?” – tanya Ryan.

“Hanya 3, tidak lebih tidak kurang” – ucap An.

“Umur mer-” – belum selesai Ryan berbicara, An sudah pergi. 

“Anak aneh” – ucap Ryan, terdengar suara terompet dunia bawah berbunyi, menandakan bahwa retakan sedang tak stabil.

“Oh tidak!” – ucap Ryan, menara sihir pun spontan mengaktifkan sihir pelindung di sekitar menara.

Bab 24

  Sedangkan di ruang medis menara sihir, sedang gawat karena Rena merasakan sakit yang luar biasa daripada sebelumnya. Para tenaga medis berusaha keras.

“Cepat, Rion ambil bius!!!” – ucap salah satu tenaga medis menara sihir. Rena tak bisa ditenangkan menggunakan Sihir penyembuhan. Rion memberikan suntikan bius kepada mereka. Mereka segera memegangi Rena.

“Semoga ini berhasil” – ucap salah satu tenaga medis menara sihir sambil menyuntikkan bius ke tubuh Rena, setelah disuntik Rena mulai tenang sedikit demi sedikit sebelum akhirnya ia tertidur.

“Untung saja berhasil” – ucap mereka. 

“Kita harus beritahu pada pak William, mungkin ia ada solusi” – ucap mereka. 

  Sementara itu, seluruh kota bagian timur dievakuasi oleh beberapa anggota terpilih SMA Pelita harapan bangsa. Sementara itu Ryan berlari menuju medan pertempuran. Ia berharap tidak terlambat dan tidak memakan korban jiwa. 

“Aku harus cepat, semoga tak terlambat” – ucap Ryan sambil terus berlari, ia melihat Leo dari kejauhan.

“Leo… aku harus kesana” – ucap Ryan sambil berlari ke arah Leo. Ia terus berlari secepat mungkin untuk membantu Leo. Leo melihat Ryan datang senang karena ia mendapat pertolongan.

“Ryan!!” – ucap Leo sambil terus melawan para monster itu. Jelas sekali terlihat Leo sudah lelah dan kehabisan tenaga.

“Tunggu, Leo” – ucap Ryan dalam hati, ia punya firasat buruk.

   Saat Ryan sampai, Leo menatap nya.

“Rya-” – ucapan Leo terhenti karena ia di tusuk dari belakang oleh salah satu monster, Ryan melihat itu dan tegang.

“Leo!!!” – teriak Ryan, Leo terdiam.

“Argh… huft…” – Leo menahan kesakitan, ia melihat ke belakang terlihat monster itu seperti senang. Tusukan itu dilepas dengan kasar membuat Leo kesakitan.

“ARGH!” – erangan kesakitan Leo, ia langsung tumbang tak sanggup lagi menahan rasa sakit itu. Ryan langsung berlari memusnahkan monster itu dulu baru itu berlari ke arah Leo. Luka tusuk itu terlalu dalam.

“Leo! Ryan!” – panggil Fahri. Ia mendekati mereka.

“Tidak Leo, kumohon bertahanlah” – ucap Ryan tidak sanggup kehilangan teman semasa kecilnya.

Bab 25

 Flashback on

Terlihat seorang anak laki-laki berumur 5 tahun duduk sendirian dibawah pohon. Ia tak punya teman karena ia yang menutup diri pada mereka hingga dijuluki anak aneh. Mereka melihat anak itu sebagai orang yang aneh, tapi kebanyakan anak perempuan menyukai anak itu karena anak itu tampan. Di saat ia sedang membaca buku di bawah pohon itu seorang anak laki-laki berumur 6 tahun, mendekatinya.

“Hey, kok kamu sendirian sih? Nama kamu siapa?” – ucap anak laki-laki itu.

“Namaku Ryan, memang kenapa? Gak bolehkah duduk di sini?” – tanya Ryan kecil.

“Agak aneh saja menurut ku, oh iya aku Leo” – ucap Leo, seorang anak perempuan bersembunyi di belakang Leo.

“Kalau dia?” – tanya Ryan. Leo menengok ke belakang.

“Oh ini Rena, Rena ayo bilang hai” – ucap Leo. Rena malah langsung menyembunyikan wajahnya di punggung Leo.

“Anaknya emang pemalu. Ryan ayo main” – ucap Leo. Ia menarik tangan Leo. Semenjak saat itu mereka menjadi sahabat dan terkadang bermain dengan Rena dan Lala.

  Flashback end.

Fahri pun mendekati mereka, dan cepat memanggil tenaga medis. 

“Cepatlah!! Datang ke sini!!” – ucap Fahri dengan panik. 

“Leo bertahanlah” – ucap Ryan dengan nada yang hampir pecah.

“Ryan aku… minta maaf” – ucap Leo. Sontak Ryan langsung menegang. 

“Makasih… ya Ryan sudah mau… jadi temanku” – ucap Leo sambil menutup matanya 

“Gak usah bicara kek gitu! Oy buka mata mu!!!” – ucap Ryan.

“Hanya terima kasih yang bisa ku ucapkan… bilang ke Rena juga, aku pamit… sampai nanti ya kalian” – ucap Leo sambil menghembuskan nafas terakhirnya. Fahri dan Ryan terdiam, lalu menangis sejadi-jadinya. Ryan kehilangan sahabat yang sedari kecil bermain dengan nya.

“Leo… bangun… kau bercanda kan?” – ucap Ryan dengan nada getir. Melihat tubuh sahabat… bukan, tubuh orang yang ia anggap sebagai saudara nya sendiri, tidak bernyawa dan dingin.

“Bangun!!! Bangun Leo!!!” – ucap Ryan sambil terus mengguncang tubuh Leo. Fahri memegang pundaknya dan menggeleng kan kepalanya.

  Keesokan harinya pemakaman, semua orang menangis dan sedih. Sementara itu Ryan yang tak berani menatap tubuh Leo hanya bisa berdiam diri di pojokan. Ia larut dalam kesedihan mendalam. Tak percaya temannya sudah pergi. Fahri juga sedih.

“Kita lalai” – ucap Fahri. 

“Ya kita kehilangan sahabat…” – ucap Ryan, saat di depan makam Leo dan semua orang sudah pergi.

“Leo, aku janji aku akan mengalahkan mereka, semoga kita berdua bertemu di kehidupan kedua…” – ucap Ryan di depan makam Leo.

Bab 26

   Sementara itu Rena baru saja sadar. Ryan masuk ke ruang rawat Rena. 

“Rena… aku mau kasih berita” – ucap Ryan. 

“Berita apa?” – tanya Rena, ia bingung. Ryan menahan air matanya. Ia pun menghela nafas.

“Leo… Leo meninggalkan kita selama-lamanya” – ucap Ryan. Rena terdiam.

“Kau bercanda kan!? Ryan jawab!!” – ucap Rena sambil menarik kerah baju milik Ryan. Ryan tak berani menatap Rena. 

“Jawab aku Ryan… Ryan” – ucap Rena sambil terus menyangkal. Ryan menatap Rena, matanya menunjukkan kejujuran dan kesedihan yang mendalam. 

“Rena, aku nggak bohong aku nggak” – ucap Ryan sambil menunduk. Rena melepas genggaman nya. 

“Maaf Rena aku, aku tak bisa melindungi nya” – ucap Ryan. 

“Ryan… nih” – ucap Rena sambil memberikan tisu untuk Ryan. 

“Tidak, aku pergi dulu, istirahat lah” – ucap Ryan sambil pergi. Beberapa menit kemudian Rion, An, dan Nisa masuk ke kamar Rena, mereka membawa beberapa makanan untuk Rena.

“Kakak!!! Kak Rena udah mendingan ya?” – ucap mereka sambil masuk ke kamar. 

“Kan sudah di bilangin ketuk dulu sebelum masuk” – ucap Rena. Rena melihat kotak hadiah yang di pegang Rion.

“Apa itu?” – tanya Rena.

“Dari kak Ryan, dan ini rahasia hehehe” – ucap Rion memberikan hadiah itu ke Rena. Rena menerima nya.

“Kak kita main yuk” – beberapa jam kemudian mereka pergi setelah bermain, Rena menatap kotak itu dan membuka nya. Terlihat sebuah boneka, boneka rubah kesukaan Rena. 

“Boneka ini…” – ucap Rena sambil mengelus-elus kepala boneka itu. Ia melihat ke arah jendela, lalu memeluk boneka itu.

“Dasar Ryan” – ucap Rena sambil terus memeluk boneka itu.

“Tapi terima kasih Ryan, kau tau apa yang kau lakukan kan?” – ucap Rena di dalam hati.

   Di suatu tempat.

“Sudah saatnya” – ucap sosok misterius itu.

“Tapi kita harus menyingkirkan makhluk sialan itu” – ucap sosok misterius ke 2, yang dimaksud makhluk sialan itu adalah Rena. 

“Permainan nya baru dimulai” – ucap sosok ketiga.

Bab 27

  Beberapa makhluk suruhan dunia bawah mencoba membunuh Rena tapi entah mengapa selalu saja gagal. 

“Capek bener cuma mau ngebunuh anak itu” – ucap salah satu dari mereka. Tiba tiba Ryan muncul dan memusnahkan mereka semua.

“Mereka mulai berani… aku harus memberitahu Kakek tua itu” – ucap Ryan sambil pergi ke ruangan William. 

“Oi!! Kakek tua” – ucap Ryan yang membuat William kaget hingga menjatuhkan beberapa buku yang tadi ia pegang.

“Ketuk dulu sebelum masuk!! Kau ini” – ucap William sambil mengambil beberapa buku yang jatuh. Ryan mendekati nya.

“Rena tadi hampir terbunuh” – ucap Ryan, William langsung menatap Ryan.

“Apa!?” – ucap William 

“Makhluk dunia bawah mulai berani menyerang” – ucap Ryan.

“Mereka pasti sudah merencanakan sesuatu yang besar sampai sampai ingin menyingkirkan yang menurut mereka adalah gangguan” – ucap Ryan, William berpikir sebentar.

“Tunggu dulu bagaimana mereka tahu bahwa Rena punya cap Ephemeral?” – ucap William.

“Aku juga tidak tahu pasti, tapi sepertinya mereka menguping pembicaraan atau dengan sesuatu yang tak terduga” – ucap Ryan.

“Tapi yang lebih penting sekarang, kita harus melindungi Rena terlebih dahulu” – ucap Ryan sambil memegang kertas. Menulis beberapa rencana, mengatur beberapa strategi. 

“Kita harus memperketat penjagaan di kamar Rena, memperketat pengawasan di menara sihir ini” – ucap Ryan sambil menulis beberapa rencana.

“Sebenarnya kau kah atau aku yang Tetua menara sihir sih!?” – ucap William, reaksi Ryan hanya pura-pura gak liat.

  Saat Ryan sedang memikirkan rencana, ia teringat Rena. Entah mengapa ia memikirkan gadis itu. Mungkin perasaan atau karena sudah terbiasa mengurus beberapa hal bersama Rena meskipun tak menyukainya 

Bab 28

  Beberapa hari berlalu, penjagaan di sekitar kamar Rena terus diperketat serta pengawasan di menara sihir. Terkadang Ryan datang membawakan cemilan untuk Rena. Hampir setiap hari ia membawa Rena makanan ataupun camilan, terkadang dia membawa buku untuk Rena baca agar tak bosan, mengajak Rion, An, dan Nisa bermain di kamar Rena, bahkan menjaga Rena di dalam kamarnya. 

“Nih camilan untuk mu hari ini” – ucap Ryan sambil memberikan nya cemilan. Rena menerima nya.

“Makasih ya” – ucap Rena sambil tersenyum manis. Ryan langsung pergi, membuat Rena bingung 

“Aneh” – ucap Rena sambil memakan satu cemilan dari Ryan. Saat Ryan sudah jauh dari kamar Rena ia langsung merona. Ryan tak tahu kenapa tapi detak jantung nya berdebar kencang rasanya. 

“Perasaan apa sih ini!?” – ucap Ryan di dalam hati.

“Jantungku kenapa berdetak kencang” – ucap Ryan sambil terus menenangkan dirinya yang mungkin sedang salting karena senyuman gadis itu. Rena adalah orang yang dulu pernah Ryan cintai saat SD. Kemana mana selalu bersama Rena dan juga sama Leo. Leo tau Ryan menyukai Rena karena kelihatan sekali. Tapi semenjak Rena dibilang tak punya sihir ia jadi menjauh.

“Sialan…” – ucap Ryan, perasaan ini jarang ia rasakan. 

   Ryan mengusap wajahnya dengan frustasi. sementara itu Rena, ia merasakan sesuatu yang retak di tubuhnya.

“Kok ada yang sepertinya retak” – ucap Rena sambil membuka lengan baju nya. Ia melihat retakan kecil di lengannya.

“Apa ini yang disebabkan cap Ephemeral!?” – ucap Rena sambil terus berusaha tenang, ia tahu ada yang salah. Tapi apa?

“Mungkin ini tanda akan jadi sesuatu? Tapi apa!?” – ucap Rena, ia berjalan mondar-mandir di kamar nya.

Bab 29

  Malam hari kemudian, Rion datang untuk bermain menemani Rena. 

“Kakak! Ayo main” – ucap Rion sambil membawa kotak mainan nya. 

“Loh mana An dan Nisa?” – tanya Rena.

“Mereka sibuk jadi biar aku saja yang temani kakak” – ucap Rion sambil mengambil beberapa mainan. 

Beberapa jam kemudian.

“Rion… aku punya firasat buruk deh” – ucap Rena sambil memegang mobil-mobilan milik Rion. 

“Halah, pikir yang positif dong kak” 

“Ya ya, lanjut main yuk” – ucap Rena, Rion mengangguk. Beberapa jam kemudian Rion tertidur di pangkuan Rena. 

“Lucunya” – ucap Rena sambil menyelimuti mereka berdua.

     Sementara itu, William berhasil menemukan cara untuk menutup retakan tanpa perlu mengorbankan Rena.

“Akhirnya ketemu juga” – ucap William sambil menulis sebuah surat untuk Rena, surat pengakuan.

“Aku ingin dia tau ini” – ucap William sambil menulis nama Rena di nama yang mendapatkan surat ini.

“Tulis untuk Ryan juga deh” – ucap William sambil terus menuliskan kata demi kata, kalimat demi kalimat. Ia terus menulis dan memasukkan surat itu ke dalam amplop dan menulis siapa yang menerima surat ini.

   “Oh ya aku harus tulis cara menutup Retakan tanpa mengorbankan Rena” – ucap William.

“Seperti nya kau menemukan sesuatu yang menarik ya?” – ucap sosok misterius. William langsung berbalik menghadap ke sosok itu.

“Kamu!?” – ucap William tak percaya dengan yang ia lihat. 

“Anda harus tidur untuk selamanya ya pak” – ucap sosok itu sambil menusuk William. Lalu sosok itu pergi.

William menulis beberapa kata untuk surat kedua Rena sebelum ia benar-benar tiada.

Bab 30

  Keesokan harinya William ditemukan tak bernyawa, ia langsung dimakamkan hari itu juga. Semua orang bersedih termasuk Rena, Ryan dan beberapa orang yang dekat dengan William. Rena terlihat terdiam tak percaya William pergi selamanya.

“*Hiks* tidak mungkin… kenapa pak… kenapa!!!?” – ucap Rena sambil menangis di samping peti mayat William, wajah William menunjukkan ketenangan yang dingin. Hal itu membuat Rena tambah sesak di dada. Ryan datang dan memeluk Rena, ia mengusap punggung Rena berusaha menenangkan diri Rena yang sedang dalam kesedihan mendalam.

“Tenang Rena, shh tenang” – ucap Ryan menenangkan Rena, Rena mencengkram erat ujung baju Ryan, ia ingin menangis sejadi-jadinya, tapi ia tahu ia tak boleh seperti itu.

“Kau boleh menangis sejadi-jadinya Rena, kau boleh” – ucap Ryan sambil mengelus-elus kepala Rena. Rena langsung menangis dengan keras, perasaan kehilangan yang ia rasakan menggerogoti diri nya. 

“Kenapa… harus pergi sekarang sih hiks…” – ucap Rena sambil sesenggukan akibat tangisnya. Rion datang membawakan surat untuk Rena dan Ryan. 

“Kak Ryan, kak Rena… ini surat peninggalan dari Tuan William” – ucap Rion sambil memberikan surat itu.

“Huft makasih ya Rion” – ucap Rena sambil menyimpan surat itu, Ryan menerima surat dari William dan menyimpannya.

“Apa kau ingin membaca suratnya?” – tanya Ryan, Rena menggeleng kan kepalanya. 

“Baiklah, ku antar pulang ya?” – tanya Ryan, Rena mengangguk. 

   Beberapa menit kemudian Ryan meninggalkan Rena, karena ia tahu Rena ingin ruang pribadi. Rena membaca surat yang diberikan oleh William, terdapat 2 surat, tapi ia membaca surat pertama sambil menangis. Lalu di surat kedua ia langsung tegang. 

“Aku harus beritahu Ryan!!” – ucap Rena sambil berlari menuju tempat Ryan berada.

– – – – – – – – – – – – ★ – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – ★ – – – – – – – – – – – – –

Bersambung…

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait