101150
“Kode Error: Rena, warisan 5000 tahun”

“Kode Error: Rena, warisan 5000 tahun”

By: Meliani Annisa 

BAGIAN 4

– – – – – – – – – – – – ★ – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – ★ – – – – – – – – – – – – –

Bab 31

  Isi surat pertama milik Rena.

“Halo Rena, aku ingin bilang bahwa sebenarnya kau adalah cucu ku. Aku kakekmu. Saat kau tau bahwa ternyata orang tuamu sekarang bukanlah orang tua kandungmu, kau pasti marah karena aku tak memberitahumu sedari awal ya? Aku… terlalu takut untuk memberitahu mu, tapi aku punya alasan mengapa kau ku titipkan, karena kesibukan ku… aku takut aku tak bisa merawatmu makanya aku memberikanmu pada mereka. Aku selalu mengawasi kehidupanmu, melihat kau tumbuh dan berkembang. Saat kau sudah bisa berjalan, rasanya aku ingin melihatmu tapi sayangnya aku terlalu takut. Kau memanggilku pak William tapi di dalam hati ku, aku ingin kau memanggilku Kakek. “Aku sayang kamu cucuku” aku ingin bilang seperti itu tapi aku takut, kau boleh membenciku, benci aku Rena, sekali lagi aku minta maaf” – isi surat pertama membuat Rena menangis sejadi-jadinya, lalu Rena melihat isi surat kedua. Surat itu terkena noda darah dan tulisan nya yang berantakan tapi masih bisa dibaca.

  Sementara itu, Ryan sedang berbicara dengan seseorang, orang itu ingin memberikan Ryan jimat.

“Jangan diterima Ryan!!!” – ucap Rena sambil berlari menuju Ryan. Ryan menatap Rena yang berlari sementara itu, seseorang itu hanya terdiam. 

“Ada apa re-” – ucapan Ryan terpotong karena tiba-tiba jimat itu meledakkan aura yang sangat amat kuat. Ryan terpental karena ledakan itu.

“Ryan!” – ucap Rena sambil membantunya berdiri.

“Kau tidak apa!?” – ucap Rena khawatir pada keadaan Ryan. Ryan mengangguk. 

“Sebenarnya apa yang terjadi disini!?” – ucap Ryan. Rena mengobati Ryan.

“Oh lihat ini dia orang bucin sedang dalam masalah hahahaha!!” – ucap seseorang itu sambil tertawa jahat. 

“K-kau!?” – ucap Ryan sambil tak percaya dengan apa yang ia lihat. 

“Apa kau baik-baik saja RYAN! HAHAHAHA” – ucap seseorang itu.

Bab 32

  Ryan tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang, Rena membantunya berdiri.

“K- kenapa… kenapa kau jadi seperti ini!?” – ucap Ryan, ia masih kaget. Seseorang itu tersenyum.

“Hahaha… kalian naif banget, sampai sampai tak tau jika orang yang dekat dengan kalian selama ini adalah musuh kalian ya hahahaha” – ucap seseorang. Lalu ia menatap Rena.

“Tapi aku lebih terkejut ternyata kau” – ucap seseorang itu sambil menunjuk Rena.

“Mengetahui bahwa akulah Raja kegelapan dunia bawah” – ucap seseorang itu.

“Aku tahu dari surat kakekku” – ucap Rena.

“Siapa kakekmu hah?” – tanya seseorang itu.

“William… yang kemarin kau bunuh!!” – ucap Rena sambil menunjuk seseorang itu.

“Oh jadi dia kakekmu? Hahaha, pantas saja mirip” – ucap seseorang itu, Ryan pun menatap Rena tapi tak berani bertanya. 

“Kalau memang begitu rupanya” – ucap sosok itu. 

“Maka ku bikin kalian makin menderita” – ucap sosok itu sambil memerintah seluruh monster dunia bawah keluar dan menyerang para manusia. 

“T- tidak!!” – ucap Ryan, Rena membantunya dan mengobatinya.

“Aku penasaran ya, kakek-kakek itu tau nama ku, apa mungkin dari tes ia mengenalku? Terserah yang penting ia sudah pergi dan tak ada yang bisa menghentikan ku selain kalian, semoga berhasil hahahaha” – ucap sosok itu.

   Isi surat kedua William: 

“Rena aku ingin kau tau… waktu ku tak banyak lagi, aku hanya bisa… menulis beberapa kata. Jika kau sudah… membaca surat pertama maka… aku minta maaf, maaf tak langsung memberitahukan mu tentang itu. Tapi sekarang aku beneran sudah tak kuat… mungkin saat kau membaca ini aku sudah tiada, kau harus tau bahwa sebenarnya raja kegelapan dunia bawah hidup bersama kita selama ini, ia adalah Fahri – William” 

  Jadi selama ini Fahri adalah dalang retakan ini.

Bagian 33

  “Karena kalian sudah tahu” – ucap Fahri.

“Tak apa, asal kalian tahu. Jimat yang meledakkan aura itu adalah awal penyerangan!!!” – ucap Fahri, hal itu membuat Rena dan Ryan tegang. Sementara itu, para monster dunia bawah yang lebih berbahaya keluar dan menyerang berbagai hal, menyerang manusia dan menghisap jiwa mereka. 

“Good luck ya untuk kalian hahahaha” – ucap Fahri sebelum ia menghilang.

“Ryan, kita harus bagaimana?” – ucap Rena.

“Bagaimana kalau, aku mencari tahu bagaimana cara menutup retakan” – ucap Rena sambil berlari menuju ke menara sihir. 

“Rena! Tunggu…” – ucap Ryan tetapi Rena tak mendengar, ia tak bisa menghentikan Rena jika tekad Rena sudah bulat. 

“Aku sebaiknya menolong beberapa orang dan ikut ke medan perang” – ucap Ryan sambil berjalan menuju Medan perang. 

“Aku tak boleh hanya berdiam diri sementara yang lain bertempur” – ucap Ryan dalam hati sambil terus berlari.

  Sementara itu Rena menuju ke ruangan William, ia mulai membuka semua buku tentang cap Ephemeral. Ia mencari-cari semua nya, ia tak peduli dengan efek samping dari cap Ephemeral. 

“Aku harus terus mencari” – ucap Rena sambil mencari. 5 hari berlalu, Medan pertempuran mulai kacau. Banyak pertumpahan darah dimana mana, Ryan terus menerus menyerang monster itu. Sedangkan Rena akhirnya ia menemukan bagaimana cara untuk menutup retakan itu dengan cap Ephemeral. 

“Aku harus ke depan retakan” – ucap Rena namun tiba-tiba ia berhenti di depan pintu. Ia berpikir apa ia mau tewas sekarang hanya demi dunia ini? Tapi ia juga ingin menyelamatkan semua orang.

“R-rena, ada apa?” – ucap Ryan sambil berjalan masuk, ia sudah terluka parah.

Bab 34

  “R-ryan” – ucap Rena sambil memeluk Ryan, ia takut Ryan terjatuh. 

“Ada apa… agh” – ucap Ryan sambil menahan rasa sakit di bagian yang terluka. Rena cepat cepat mengambil perban dan beberapa alat medis untuk menyembuhkan luka-luka di tubuh Ryan. Beberapa menit kemudian Rena sudah selesai mengobati Ryan.

“Rena… apa kau takut?” – ucap Ryan, Rena terdiam.

“I- iya” – ucap Rena, tangan nya gemetar. Ryan menyentuh pipi Rena.

“Takut apa?” – tanya Ryan.

“Lupakan saja, aku sudah menemukan cara untuk menutup retakan. Kita harus berada di depan retakan” – ucap Rena, tiba-tiba Ryan mengelus kepala Rena dengan lembut.

“Kita lewati bersama… ya? Jangan takut” – ucap Ryan, ia tahu Rena takut karena jika Rena menutup retakan itu, Rena akan tewas.

“jika kamu tak mau, tak apa… kita cari cara lain” – ucap Ryan sambil membantunya berdiri. 

“Tidak… ayo” – ucap Rena, ia menarik tangan Ryan untuk berjalan bersama menuju retakan. Mereka lewat jalan pintas untuk sampai di retakan dalam waktu yang singkat, dengan harapan tak ada monster yang menghalangi perjalanan mereka. Mereka terus berlari dengan tangan yang saling bertautan. Tiba tiba seekor monster menyerang, Ryan langsung sigap melindungi Rena.

“Ryan!!” – ucap Rena, ia berlari ke arah Ryan. Monster itu mau menyerang Rena.

“Awas!!!” – ucap Ryan, ia menjadikan dirinya sebagai tameng untuk Rena.

“Lari Rena!!!” – ucap Ryan sambil mengeluarkan beberapa mantra sihir.

“Tapi-” – ucapan Rena langsung dipotong. 

“Tak ada tapi Rena, aku bisa kok di sini” – ucap Ryan, ia terus menyerang monster itu. Rena berlari menuju retakan. Ia berharap Ryan tak terluka, tameng yang berdiri kokoh untuk melindungi sebuah harapan dunia ini. Rena berlari tak peduli dengan apa pun, ia lah harapan dunia ini dan Ryan sekarang adalah tameng untuk nya berlari. Ia pun tiba di depan retakan.

“Apa aku yakin untuk ini?…” – ucap Rena, ia masih ragu untuk hal ini tapi ia tiba-tiba teringat, semua orang yang panik, mencoba bertahan di tengah perang dunia bawah, ia yang dilihat sebagai harapan.

“Aku… harus melakukan ini” – ucap Rena.

Bab 35

  Saat Rena mau mengucapkan mantra, seorang wanita keluar dari dalam retakan. 

“Rena… ini ibu sayang” – ucap wanita yang mengaku ngaku sebagai ibu Rena. Rena terdiam melihat apa yang sedang ia lihat sekarang. 

“Tidak mungkin, ibu sudah tiada sedari dulu!!” – ucap Rena membantah apa yang ia lihat. 

“Tapi nak…” – ucap wanita itu lama kelamaan menjadi hilang dan kini terdengar bisikan tidak tahu darimana.

“Rena, Rena ucapkan saja mantra itu, yang kau lihat sekarang hanyalah ilusi semata. Retakan mencoba menipu mu nak…” – ucap bisikan seorang wanita. 

“Bagaimana bisa aku percaya pada mu? Mungkin sama kau juga adalah ilusi juga kan” – ucap Rena, tiba-tiba Rena berada di suatu tempat yang gelap tak ada kehidupan. Rena berdiri di bawah sorot lampu yang bergantung di atas atap tepat di atas kepalanya. 

“Ini dimana!?” – ucap Rena. Ia berada di alam bawah sadar dimana jika waktu di dunia bawah alam sadar berjalan maka waktu di dunia akan berhenti sampai waktu dunia bawah alam sadar berhenti. Seorang wanita maju di depan nya.

“Siapa kau!?” – ucap Rena sambil waspada. Wanita itu memakai baju yang begitu familiar di pikiran Rena. Warna rambut wanita itu sangat mirip dengan warna rambut Rena. Rena mengucek mata nya.

“Apa… tidak mungkin…” – ucap Rena dengan nada gemetar. Wanita itu berdiri tepat di depannya. Wanita itu memeluk Rena.

“Ucapkan mantra itu sekarang… dan aku minta maaf putri ku” – ucap wanita itu, tiba-tiba kesadaran Rena kembali, sekarang ia berdiri di depan retakan.

“Aku menutup retakan ini, demi kegelapan yang merajalela di dunia ini. Demi God of the Darkness. Aku akan meny-” – ucap Rena terhenti saat ia melihat Fahri di depan retakan. 

“F-fahri” – ucap Rena. 

“Jika kau mau menutup retakan ini, maka lewati aku dulu” – ucapan Fahri membuat Rena terdiam. 

“Tidak… tapi…” – ucap Rena, ia teringat semua penduduk yang bertahan hidup.

“Jika itu mau mu, aku minta maaf Fahri” – ucap Rena, ia sebenarnya enggan. Tapi ia harus melakukan ini. 

“Aku menutup retakan ini, demi kegelapan yang merajalela di dunia ini. Demi God of the Darkness. Aku akan menyegel retakan ini untuk selama lamanya. Mengurung kekuatan jahat untuk tak kembali lagi, membuat dunia menjadi tempat yang aman!!!” – ucap Rena dengan tegas. Dari langit, sebuah cahaya aura keemasan menyorot ke retakan. Aura yang dikeluarkan cahaya itu sangat besar Rena hampir tak kuat dan hampir terjatuh. Rena harus tetap berada di depan retakan jika ingin retakan itu tersebut tersegel.

“Rena!!” – ucap Ryan sambil menggenggam tangan Rena. Ia juga menggenggam pinggang Rena, membantu nya tetap berdiri tegak.

Bab 36

  “Ryan” – ucap Rena sambil menatap Ryan. Ryan menatap Rena.

“Ayo, kita lakukan bersama” – ucap Ryan, Rena mengangguk. Cahaya aura keemasan itu tiba tiba meledak, membuat kilauan cahaya kecil yang indah. Retakan tertutup. Ryan melihat hal ini pun menghela nafas lega. Sekitar retakan yang awalnya adalah tanah tandus kini menjadi lahan yang banyak rumput tumbuh, bunga bunga yang bermekaran, langit kembali menjadi berwarna biru, penduduk mulai keluar dari persembunyian mereka. Dunia kembali menjadi dunia dimana tak ada kejahatan sihir berkeliaran. Fahri tersungkur di tanah, tubuhnya sudah lemah tak ada tenaga, Fahri melihat ke arah banyak orang yang berbahagia. Fahri tersenyum.

“Ini lah dunia yang diinginkan semua orang…” – ucap Fahri. Ryan melihat Fahri dan berlari ke arahnya.

“Fahri!!!”– ucap Ryan sambil mengangkat kepala Fahri ke pangkuannya. 

“Maaf ya Ryan… sekarang dunia sudah menjadi seperti harapan semua orang kan? Harapan yang dinanti oleh semua orang tanpa perlu bersembunyi lagi… kalian memang sekarang Ryan, padahal sewaktu aku ke dunia ini aku hanya memikirkan bagaimana membuat dunia ini hancur dan menguasainya tapi selama beberapa hari aku berada di sini aku jadi ingin tetap tinggal dan meninggalkan impian itu, tapi karena pikiran yang jahat telah lama menguasai tubuh ini… aku jadi membuat hal ini terjadi… maaf aku membunuh orang orang yang tak bersalah” – ucap Fahri. Ryan terdiam. 

   Fahri menggerakkan kepalanya untuk melihat Rena.

“Ryan, lihat Rena sekarang” – ucap Fahri, Ryan langsung melihat Rena. Mata Ryan membelalak melihat retakan di tubuh Rena sudah semakin parah, apalagi di bagian tangan kiri. 

“Rena!?” – ucap Ryan sambil berdiri dan berlari ke arah Rena. Rena menatapnya, Ryan memeluk Rena dengan erat seperti takut kehilangan. 

“Ryan aku minta maaf agh…” – ucap Rena, Ryan membawanya untuk duduk di pangkuan nya. Ryan memeluk Rena. 

“Tidak, tidak, tidak… jangan pergi Rena! Aku minta maaf, bukan kamu yang minta maaf!! Aku yang salah! Alasan ku membencimu karena aku takut ayah ku membunuhmu, ayah tak menyukai orang yang tak punya sihir. Saat ia tahu ibuku tak punya sihir ia langsung membunuhnya, dan dia akan membunuhmu jika tau aku punya teman tak punya sihir. Aku juga takut, beberapa kali aku melukaimu karena amarah ku tak terkendali!! Aku aku pecundang Rena, aku menyakitimu karena emosi yang tak bisa ku kendalikan” – ucap Ryan sambil mengusap pipi Rena yang sudah ada retakan. Kata kata Ryan itu tulus sehingga membuat Rena terdiam.

Bab 37 

  “Aku takut kehilangan lagi Rena, tapi sekarang aku tahu aku terlambat untuk menyesali ini Rena, aku seharusnya berteman saja dengan mu, bermain bersama mu. Kau boleh benci aku Rena! Benci saja aku yang pecundang ini!” – ucap Ryan, ia sudah tak bisa menahan tangisnya. 

“Tidak…” – ucap Rena membuat Ryan terdiam.

“R-rena?” – ucap Ryan tak percaya dengan ucapan Rena. Rena menyentuh pipi Ryan, sentuhannya yang hangat dan lembut membuat Ryan terdiam. 

“Aku tidak akan membencimu… mau kau suruh aku berkali kali pun tak akan pernah aku membencimu… mau sekalipun semua orang menyuruhku membencimu juga aku tak akan membencimu, aku mencintaimu Ryan… cinta ini terlalu dalam ku simpan di dalam hati dan sekarang kau mendengarnya. Setiap kali aku mau bilang kata kata ini rasanya lidah ku terpotong, jantung yang berdebar kencang saat melihat mu itu membuat ku ragu, dan juga karena statusku yang tak punya sihir membuat ku tambah ragu…” – ucap Rena, air mata Rena mengalir di pipinya. Ryan mengusap air mata itu. 

“Aku minta maaf, seharusnya aku saja yang berkorban untuk ini *hiks*” – ucap Ryan sambil menangis. Rena menutup mata dan membuka nya, ia melihat sepasang suami-istri yang menggendong seorang bayi perempuan. Rena terdiam, sang istri yang melihat Rena pun menyerahkan bayi nya ke sang suami lalu ia berjalan menuju arah Rena dan memeluknya. 

“Putri ku… lihat dirimu sekarang sudah besar ya? Aku pernah terpikirkan bahagiakah kamu tanpa ku dan ayahmu, ku pikir kakek akan merawat mu ternyata sangking sibuknya ia sampai menitipkanmu pada sepasang suami-istri ya…” – ucapan wanita itu membuat Rena bingung.

“Sebenarnya siapa kalian?” – ucap Rena. Wanita itu hanya tersenyum. Tiba-tiba latar tempatnya berganti ke sebuah pantai yang indah. 

“K-kok bisa!?” – ucap Rena, ia terpeleset. Untungnya ia langsung ditangkap oleh suami wanita itu.

“Hampir saja, kau gak apa nak?” – ucap pria itu. Rena mengangguk. Rasanya terlalu familiar, ia melihat wajah mereka yang begitu familiar. 

“Kenapa rasanya familiar… bukan, terlalu familiar terlalu hangat… sebenarnya mereka siapa? Kenapa?…” – ucap Rena di dalam hati nya. Rasa yang begitu familiar seperti ia sudah mengenal mereka tapi ia tak ingat siapa mereka.

Bab 38

  “Kenapa bengong nak?” – ucap sang istri. Sang suami menatap Rena dengan tatapan penasaran. 

“Kalian sebenarnya siapa? Kenapa rasanya terlalu familiar?” – ucap Rena dengan tidak sadar. Sang suami dan istri itu saling bertatapan.

“Apa karena benturan saat kecil kau jadi melupakan kami?” – ucap sang suami mengelus kepala Rena. 

“Mungkin iya, apa kau tak ingat kami siapa?” – ucap sang istri. Rena mengangguk.

“Sudah ku ku tebak ini akan terjadi” – ucap sang suami.

“Coba kau perhatikan bagaimana penampilan kami dengan penampilan mu Rena” – ucap sang suami, sang istri pun berada di samping suami. Rena memperhatikan dirinya dan mereka.

“Kenapa paman memiliki warna mata yang sama persis seperti milik ku? Kenapa bibi memiliki warna rambut yang juga sama seperti ku?… Kenapa kalian mirip dengan ku?” – tanya Rena.

“Ayo pikirkan secara logika” – ucap sang istri yang langsung membuat sang suami mengusap wajahnya dengan frustasi.

“Jangan begitu sayang” – ucap sang suami yang malu dengan kelakuan sang istri yang begitu tengil. 

“Rena, mungkin ini akan membuatmu mengingat kami” – ucap sang suami sambil mengambil sebuah liontin batu safir biru yang sungguh indah. Saat melihat liontin itu Rena merasa ia sudah melihat liontin itu. 

“Ini… liontin yang pernah ku pakai saat kecil” – ucap Rena.

“Ya, siapa yang memberikan nya pada mu?” – ucap sang suami berharap Rena mengingat itu.

“Ugh aku tak Ingat” – ucap Rena, sang suami menganalisis.

“Sepertinya kau memang tak ingat, bagaimana kalau ingatan mu yang hilang?” – ucap sang suami, Rena mencoba mengingat-ingat apa yang ia lupakan.

“Masa lalu?” – ucap Rena.

“Rena coba lihat ini” – ucap sang suami sambil menunjukkan sebuah liontin, di dalam liontin itu ada foto Rena bersama orang tuanya.

“Kenapa kalian mirip di foto ini… jangan bilang kalian… *hiks*” – ucap Rena ia pun menangis, sang suami dan istri itu memeluk Rena. 

“Ya nak kita orang tuamu” – ucap suami itu, sang suami adalah ayah Rena sedangkan sang istri adalah ibu Rena.

Bagian 39 

  “Kenapa kalian meninggalkan ku *hiks*” – ucap Rena, ibunya memeluknya dengan erat.

“Maaf nak” – ucap ibu.

“Kau akan segera tau nak” – ucap Ayah.

Rena menutup kembali matanya.

Saat ia membuka mata ia berdiri dengan tubuh yang sehat tak ada retakan. Ia lalu melihat Ryan yang duduk di lantai dan memeluk seseorang. 

“Ryan lihat aku, aku kembali seperti semula” – ucap Rena, namun Ryan tak melihat ke arah nya. 

“Ryan? Kau kenapa?” – tanya Rena. Ryan sama sekali tak menjawab. 

“Jawab aku Ryan!!” – ucap Rena sambil mengguncang tubuh Ryan. Rena bingung kenapa Ryan tak menatapnya. 

“Kenapa kau tak menatapku Ryan?” – ucap Rena. Ia lalu berdiri di depan Ryan.

“Ryan, aku di depan mu” – ucap Rena tapi hasilnya sama saja, ia tak melihat ke arah Rena. 

“Ryan” – ucap Rena. Ia berusaha membuat Ryan sadar dengan keberadaan dirinya. Tapi Ryan seperti tak menyadari nya.

“Rena…” – ucap sosok misterius. Rena menatap nya.

“Kau bisa melihatku, tapi kenapa Ryan tak melihat ku?” – ucap Rena. Sosok itu maju ke hadapan Rena.

“Rena, dengarkan aku Rena” – ucap sosok itu sambil menarik tangan Rena. 

“Cukup!!” – ucap Rena,ia mendorong sosok itu lalu ia menatap Ryan.

“Oh aku tahu, kau sedang mengerjai ku kan?” – ucap Rena. Tatapan mata Ryan kosong.

“Hey ayolah berhenti bercanda” – ucap Rena. Ryan tak kunjung memberi jawaban.

“Hey kenapa!? Ryan!?” – ucap Rena, tiba-tiba Ryan menangis sambil memeluk orang yang ia peluk. 

“Berhenti bercanda Ryan, aku tidak suka diperlakukan seperti ini! Kau seperti tak menyadari keberadaan ku” – ucap lalu ia melirik tubuh yang dipeluk erat Ryan. Mata Rena membelalak saat melihat tubuh itu.

“Oh… begitu ya” – ucap Rena, ia tiba-tiba bersikap dingin karena, tubuh yang dipeluk Ryan adalah mayat dan tubuh itu adalah tubuh… Rena yang sudah tiada dan mulai retak.

Bab 40

  Rena melihat tubuhnya yang sudah tak bernyawa di peluk Ryan, pantas saja Ryan terdiam dan menangis.

“Kau sudah lihat kan, Rena?” – ucap sosok misterius itu. Rena pun menatapnya. 

“Pantas Ryan tak melihat ku dan merespon ku… berarti sedari tadi aku tak sadar bahwa diriku sudah menjadi jiwa yang belum menerima kematian ya?” – ucap Rena, sosok itu mengangguk.

“Ryan… di kehidupan selanjutnya kita pasti bertemu… makasih dan selamat tinggal Ryan” – ucap Rena, sosok misterius itu mengulurkan tangannya untuk mengantar Rena ke tempat dimana ia seharusnya berada. Tempat yang akan menjadi tempat tinggal nya (untuk sementara???) dimana ia tak akan merasa kesakitan namun artinya ia harus meninggalkan semua orang yang ia sayangi dan yang mencintai nya. Ia merasakan kasih yang amat besar. 

“Rena… kau ingin ingat sesuatu tidak? Kau ingin tahu sebuah rahasia?” – ucap sosok itu. Rena menggeleng.

“Kapan kapan kalau aku mau ya? Kita bertemu lagi kan?” – ucap Rena.

“Pasti Rena…” – ucap sosok itu, sementara itu Ryan masih terdiam larut dalam kesedihan mendalam. Lalu ia melihat ke arah Fahri yang tubuhnya mulai menjadi abu.

“Maaf ya Ryan… jika ada kehidupan kedua, aku harap aku menjadi orang yang baik…” – ucap Fahri, Ryan Menggendong tubuh Rena dan berjalan menuju Fahri dan berlutut.

“Pft kau sebenarnya mencintai Rena kan? Tubuh itu sudah tidak bernyawa… tapi kau tetap setia… hehehe aku berharap kau menjadi lebih baik dari ku Ryan meskipun aku memang jahat dari lahir, jangan biarkan cinta merenggut mu… jangan menghancurkan dunia karena cintamu pergi… jangan jadi pedang yang menghancurkan dunia hanya karena sebuah bunga layu… bye Ryan” – ucap Fahri sambil menutup matanya. Ryan menatap dua tubuh itu dengan kesedihan. 

“Aku bagaikan pedang… pedang yang dulunya tajam dan dapat mengalahkan lawan lawan ku yang menghalangi jalanku tapi sekarang, aku adalah pedang yang tumpul… aku pedang yang tumpul karena melihat sebuah bunga… bunga yang indah. Tapi bunga itu sekarang layu” – ucap Ryan, ia memeluk tubuh Rena.

“Aku akan mencarimu, mau Dunia hancur sekalipun akan tetap kucari” – ucap Ryan. Beberapa tahun kemudian, Ryan sudah tua dan mendekati kematian nya. Ia belum menikah, ia hanya ingin menikah dengan Rena.

“Huft aku sudah waktunya pulang ya…” – ucap Ryan, ia menatap foto masa lalunya. Hangat adalah kata yang tepat untuk foto itu. Hangat nya hubungan mereka. 

  Tiba tiba Ryan batuk batuk dan sesak nafas, seluruh dokter bekerja keras menyelamatkan nyawanya tapi takdir berkata balik… eh salah maksudnya takdir berkata lain. Ryan tewas, semua orang memberikan nya pemakaman dan hormat untuk nya. Ia juga dimakamkan di samping makam Rena.

Dunia roh

“Rena apa kau ingin tau sesuatu?” – tanya sosok misterius.

“tahu apa?” – tanya Rena.

“Jadi begini…”- ucap sosok misterius.

– – – – – – – – – – – – ★ – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – ★ – – – – – – – – – – – – –

Bersambung… 

“Hai semua, aku cuma mau kasih tau kalau untuk cerita Rena ini masih ada lanjutannya cuma belum aku selesai kan jadi mungkin karena waktu yang sudah tidak memungkinkan juga. 

See you later ” – Author (Meliani Annisa)

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait