“Kode Error: Rena, Warisan 5000 tahun”
By: Meliani Annisa
“Bagian 1”
– – – – – – – – – – – – ★ – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – ★ – – – – – – – – – – – – –
Bab 1
Anak usia 15 tahun pasti mendapatkan sihir, tapi berbeda dengan Rena Permata Putri Pamungkas. Di usianya yang ke-15 tahun Rena sama sekali tidak mendapatkan sihir, orang tuanya bingung Dan Panik bagaimana kehidupan Rena tanpa sihir.
Di saat sekolah Rena selalu di bully karena Ia sama sekali tidak bisa menggunakan sihir dan tidak mendapatkan sihir menurut teman-temannya itu aneh tapi untungnya ada beberapa teman yang mau berteman dengannya. Di saat dia masuk sekolah SMA, dia jatuh cinta dengan seorang remaja laki-laki yaitu Ryan, tapi Ryan tidak menyukai Rena bahkan jijik dengar Rena. Suatu hari di saat jam istirahat Rena pergi ke Perpustakaan dan tak sengaja bertemu dengan Ryan.
“Eh…?” – ucap Rena kaget.
“Minggir” – ucap Ryan sambil menyenggol Rena hingga terjatuh.
“Ouch!” – erangan Rena karena ia terjatuh cukup keras. Rena pun Mencoba Berdiri. Bel berkumpul berbunyi yang menandakan siswa harus pergi ke aula sekolah karena ada pemeriksaan sihir atau bisa disebut dengan pemeriksaan level sihir.
Bab 2
Semua siswa berkumpul di aula. Sebenarnya Rena tidak ingin pergi ke sana tetapi karena peraturan mewajibkan jika ada bunyi bel berkumpul, artinya semua siswa wajib pergi ke aula. Satu persatu siswa mulai diperiksa level sihirnya. Saat Ryan maju.
“Level 20” – ucap sistem, semua siswa pun bersorak dan bertepuk tangan untuk Ryan, karena level 20 adalah level tertinggi. Giliran Rena maju, banyak siswa mulai berbisik ya karena dia tidak punya sihir.
“Error” – ucap Sistem entah Mengapa langsung error biasanya hanya keluar angka 0. Semua siswa mulai berbisik, Rena mulai gugup dan takut. Pak kepala sekolah langsung menyuruh semua siswa untuk bubar, semua siswa pun bubar bu guru mendekati Rena dan menepuk pundaknya Rena.
“ kembalilah ke kelas dan Tenangkan dirimu ya” – ucap Bu guru, Rena pun pergi ke kelas karena masih sedikit shock dan bingung.
Bab 3
Rena duduk di kursi sambil melamun.
“kenapa… bisa jadi seperti ini?” – ucap Rena, tiba tiba Ryan masuk dan mendorong Rena hingga terjatuh.
“Gara gara kamu! Kamu itu emang membawa sial ya tak berguna!” – ucap Ryan sambil menyiram Rena dengan air dingin, lalu Ryan pergi meninggalkan Rena yang masih kaget. Rena mau menangis tapi ia menahannya, dia tak mau ada yang melihat. Rasa ketakutannya akan bisikan bisikan orang orang yang membicarakannya mulai muncul membuatnya menjadi lebih takut merasakan rasa sakit yang luar biasa tetapi ia tetap memendam nya.
“Kenapa? Kenapa jadi seperti ini?… Aku salah apa?” – ucap Rena sambil terus menerus mengulang perkataan nya. Ia bener-bener masih shock berat dan trauma.
Bab 4
Rena pun mulai bangkit berdiri berjalan ke WC sebelum ada yang melihatnya. Saat sampai di WC dia langsung menghadap ke cermin dan melihat sosok dirinya di pantulan cermin itu. Kata-kata yang sesuai untuk keadaannya saat ini adalah hancur dan menyedihkan. Rena tak tahu lagi Bagaimana Iya akan menghadapi semua ini. Semua ini datang secara tiba-tiba, tanpa aba-aba yang membuat Rena jadi seperti ini putus asa dan tak tahu harus apa.
Tiba-tiba ada suara terompet yang menandakan dunia bawah membuka sebuah retakan. Dunia bawah adalah dunia yang berisikan monster, iblis, dan bahkan roh-roh jahat, membuat sebuah retakan agar mereka bisa masuk ke dalam dunia manusia atau dunia atas. Retakan itu sudah sering terjadi dan semua tetua menara sihir pasti menemukan cara untuk menutup retakan itu kembali tetapi tidak permanen. Retakan itu kembali terbuka setelah 100 tahun. Tetua menara sihir adalah orang-orang yang memiliki level atau tingkat sihir yang paling tinggi setara dengan Ryan yaitu level 20. Mereka yang mengatur semua sihir di dunia ini mulai dari sihir tingkat rendah sampai tingkat tinggi. Mereka juga yang bertanggung jawab atas terjadinya beberapa kejadian yang disebabkan oleh sihir yang tak terkendali di dunia ini, pemilihan para ketua juga Tidak sembarangan. Mereka dites dengan sihir mereka sendiri apakah sihir itu sesuai dengan standar yang diberikan atau tidak.
Bab 5
Para tetua menara sihir berusaha untuk menutup retakan tapi mungkin karena kekuatan Retakan itu lebih kuat daripada sebelumnya mereka tak bisa menutupnya, Jadi mereka hanya menstabilkan retakan itu dengan sihir pelindung tingkat 10 agar tidak meledak dan mengeluarkan monster-monster yang berbahaya bagi manusia.
Untuk mengantisipasi kemungkinan adanya monster yang menyelinap keluar dari retakan itu, para tetua setuju untuk menyuruh SMA Pelita Harapan Bangsa untuk ikut serta menjaga dan rela bertarung jika ada monster yang keluar dari retakan itu. SMA itu setuju berbekalkan dengan bantuan pengawal pengawal sihir. SMA Pelita Harapan Bangsa pun mengirim setiap siswa dalam satu kelompok yang berisikan 20 sampai 30 orang. Kelompok ini terdiri dari tim A sampai tim Z dikarenakan banyaknya siswa.
Rena sudah berharap tidak ikut untuk menjaga retakan itu karena ia tidak punya sihir, tapi dikarenakan skillnya dalam mengatur strategi itu bagus kepala sekolah menyuruhnya untuk ikut. Rena tak punya pilihan lagi, Rena pun ditempatkan di grup C. Rena kaget karena ternyata dia satu grup dengan Ryan.
“Alamak bagaimana bisa kebetulan seperti ini!?” – ucap Rena sambil memegang kepalanya, Ryan menatap Rena dan merasa jengkel karena satu tim dengannya.
“Bisa bisanya orang yang lemah sepertimu masuk ke grup ini” – ujar Ryan sambil memasang wajah mual, Rena hanya diam. Ia tahu jika menjawab, keadaan akan semakin buruk.
“Tapi Rena bisa mengatur strategi lebih baik daripada kau Ryan” – ucap Lala salah satu siswa yang mau berteman dengan Rena tanpa memandang ia tak punya sihir ataupun punya. Ryan pun hanya bisa menggeram kesal.
Bab 6
Ryan pun pergi, Lala pun mendekati Rena.
“Rena Jangan dengarkan dia, dia hanya orang yang tak bisa menghargai seseorang” – ucap Lala sambil memegang pundak Rena.
“Ya… makasih Lala” – ucap Rena sambil menyembunyikan wajahnya. Tiba-tiba salah satu siswa memanggil mereka siswa itu satu grup dengan mereka.
“Oy! Sudah waktunya jaga retakan!!” – ucap siswa itu memanggil mereka.
“Eh iya!” – ucap Rena dan Lala yang langsung berlari. Mereka pun sampai di sekitar retakan itu, semua anggota penyerang sudah pada di posisinya masing-masing. Setiap anggota penyerang dibedakan menjadi tiga yaitu Garda terdepan, Garda penolong, dan Garda cadangan. Anggota medis pun juga siap. Lala berada di anggota sihir, sedangkan Rena berada di anggota pengatur strategi. Waktu untuk setiap grup adalah 5 jam berjaga.
“lama sekali!!” – ucap Rena yang mulai bosan dari tadi dia hanya bikin strategi, strategi, dan strategi untuk mengisi kebosanannya itu.
“Sabarlah wahai anak muda” – ucap Leo, salah satu kakak kelasnya Rena sekaligus orang yang mau berteman dengan Rena selain Lala.
“Berapa lama lagi?” – tanya Rena.
“2 jam lagi” – jawab Leo. Rena pun jungkir balik sangking bosennya. Leo yang melihat itu pun hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah laku Rena.
Bab 7
5 jam berlalu, waktunya pergantian penjaga retakan.
“Jaga yang bener-bener loh” – ucap Ryan ke Fahri, teman Ryan sekaligus Kapten grup D.
“Ya ya kau meragukan keahlian ku?” – ucap Fahri, Ryan hanya mengangguk. Ryan pun memerintahkan grup C untuk bubar dan beristirahat sambil menunggu waktu berjaga kembali.
“Aku punya firasat yang buruk” – ucap Rena, Leo dan Lala sontak langsung menatap Rena.
“Firasat Buruk apa” – tanya Leo.
“Ya…” – ujar Rena dengan gugup.
“Sudahlah tidak usah mikir yang aneh-aneh deh” – ucap Lala sambil memegang pundaknya Rena.
“Mungkin kau benar, ayo pulang sudah waktunya nih nanti orang tua kita cariin lagi” – ucap Leo sambil mengajak mereka pulang. Selama grup D menjaga ada beberapa dari mereka yang mulai mengantuk. Sebenarnya grup D tidak ada persiapan sama sekali. Di saat mereka lengah monster dari dunia bawah mulai keluar semua dan pergi sekitar retakan. Beberapa menit kemudian retakan itu meledak dan mengeluarkan semua monster-monster jahat dari sana.
Bab 8
Ledakan itu membuat grup D kaget dan langsung dalam posisi siap melawan meskipun beberapa dari mereka lelah dan mengantuk. Tapi, semua monster dunia bawah keluar semua dari dunia tanpa memberi kesempatan grup D. Grup D mencoba menghentikan tapi tak bisa.
“Mereka terlalu kuat… semuanya kita mundur!!” – ucap Fahri sambil mengajak yang lain mundur. Telah sampai ke Menara sihir Fahri langsung menemui para Tetua dan berlutut di hadapan mereka.
“Lapor, retakan itu tak terkendali” – ucap Fahri.
“Retakan itu… kita harus memusnahkan terlebih dahulu monster-monster itu” – ucap William salah satu tetua menara sihir, atau lebih tepatnya dialah ketuanya. William pun memerintahkan untuk SMA Pelita Harapan Bangsa ikut serta membantu memusnahkan dan menghancurkan monster-monster itu. Kepala sekolah pun memberitahu semua siswa, seluruh siswa pun bersiap-siap ikut maju ke medan pertempuran. Dan bagi siswa-siswa yang menurut kepala sekolah tidak bisa ikut ke medan pertempuran pun disuruh mengevakuasi semua warga kota yang ada di bagian barat karena retakan itu mengeluarkan monster-monster yang menyerang bagian Barat Kota, Rena pun ikut di bagian evakuasi.
“Cepat!! Semuanya arah sini!!” – ucap Rena sambil mengarahkan para warga. Para warga itu panik karena takut pada monster-monster itu. Di saat keadaan sedang panas-panasnya Rena tak sengaja menatap salah satu monster, beberapa menit kemudian Rena seluruh tubuhnya sakit semua dan panas secara tiba-tiba.
Bab 9
Orang-orang pun memanggil medis karena khawatir dengan Rena, beberapa menit kemudian paramedis membawa Rena ke rumah sakit. Dokter pun mencoba menyembuhkan Rena dan memeriksa apa yang terjadi padanya menggunakan sihir medis. Sementara itu siswa-siswi SMA Pelita Harapan Bangsa yang ikut ke medan perang terus bertarung melawan para monster itu.
“Argh! Berapa banyak sih mereka!?” – tanya Leo sambil terus menyerang monster-monster itu dengan sihir penyerangnya.
“Nggak tau, tetap waspada pada serangan mereka” – Ucap Fahri yang datang membantu Leo. Mereka berdua terus menyerang monster-monster itu tapi monster-monster itu terus bermunculan tak ada hentinya. Di saat Leo dan Fahri lelah, seekor monster menyerang mereka dari titik buta mereka.
“Sihir pelindung tingkat 15!!” – ucap Ryan sambil berdiri di depan mereka melindungi mereka dari serangan monster itu.
“Hahaha datang juga kau Ryan” – ujar Leo dan Fahri secara bersamaan.
“Ya Kalau aku nggak datang ntar kalian jadi ayam penyet hahaha” – ucap Ryan dengan nada mengejek.
“Kau ini!!” – ucap Leo yang kesal.
“Tetap fokus oy!!” – ucap Fahri, Mereka pun menyerang monster-monster itu.
Bab 10
Satu jam berlalu monster-monster itu terus menyerang.
“Mereka seperti tak bisa mati gak ada habis-habisnya!?” – ucap Leo yang mulai kehabisan tenaga mereka bertiga mulai kehabisan tenaga.
“Kita harus be-” – sebelum ucapan Ryan selesai, tiba-tiba suara terompet berbunyi dua kali monster-monster itu tiba-tiba berjalan masuk kembali ke dalam retakan seperti ada yang menyuruh mereka masuk kembali.
“A-apa yang terjadi?” – ucap mereka bertiga dengan bingung. Setelah semua monster masuk, cetakan itu langsung stabil dan dijaga regu pelindung dari SMA Pelita Harapan Bangsa dan menara sihir.
Sementara itu Rena sekarang sudah stabil tapi dia tak sadarkan diri. Dokter mendiagnosis Ia hanya demam tapi itu hanya diagnosis sementara.
“Ada apa ini?” – tanya Rena dengan suara yang serak Ia baru sadar dari pingsannya itu.
“Kau hanya demam tapi itu hanya diagnosis sementara” – ucap dokter.
“ Istirahatlah kau harus istirahat” – sambung dokter itu.
Beberapa hari kemudian. Retakan itu sering meledak dan monster-monster itu juga sering keluar tapi setelah satu jam atau 5 jam retakan itu pasti stabil dengan sendirinya yang membuat para tetua di menara sihir kaget dan bingung bagaimana retakan itu bisa stabil dengan sendirinya? William sendiri juga Tak habis pikir Bagaimana retakan itu bisa stabil dengan sendirinya tanpa adanya sihir ataupun bantuan dari para ketua atau Sebenarnya ada yang mengendalikan katakan itu dan memerintahkan monster-monster itu?
– – – – – – – – – – – – ★ – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – ★ – – – – – – – – – – – – –
Bersambung…
