IMG_20260109_202710
Membangun Karakter Melalui Pembiasaan Membaca Surah Pendek

Membangun Karakter Melalui Pembiasaan Membaca Surah Pendek

Fety Adi Setyana, SMPN 1 Bengalon, Kutai Timur

“Di tengah riuhnya dunia, jadikan lantunan surah pendek sebagai kompas harian yang secara lembut mengarahkan hatimu kembali pada kebaikan dan ketakwaan”

Situasi

Di SMPN 1 Bengalon tempat saya mengajar, saya sebagai wali kelas merasakan suasana pagi yang penuh tantangan: murid datang dengan lesu, belum tenang, dan fokus belajar belum terbentuk. Beberapa murid datang dengan gadget, ada yang belum sarapan, dan kelas terasa kurang hangat. Di sisi lain, program nasional 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat sedang marak diimplementasikan, namun belum bersinergi secara optimal dengan rutinitas sekolah. Saya ingin menciptakan momen pagi yang mengalir secara emosional, memberi energi positif, sekaligus memperkuat kebiasaan seperti semangat belajar, tanggung jawab, dan kedisiplinan.

Di sekolah saya, setiap hari Selasa, Rabu dan Kamis terjadwal kegiatan literasi, numerasi satu jam pelajaran bersama wali kelas. Sebelum melaksanakan kegiatan tersebut, saya selalu memulai dengan mengajak murid-murid membaca surah pendek dari juz Amma yang dipimpin salah satu murid laki-laki setiap hari secara bergantian. Kegiatan ini menciptakan suasana yang tenang sekaligus spiritual, kesiapan mental, sekaligus menyenangkan suasana pagi. Ini menjadi rutinitas di pagi hari setiap sebelum memulai pembelajaran.

Gerakan nasional 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat mewajibkan anak untuk menginternalisasi kebiasaan seperti beribadah, gemar belajar, bangun pagi dan lainnya secara berlanjut. Gerakan ini merupakan pintu masuk untuk menanamkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yang diluncurkan oleh kemendikdasmen yakni bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan istirahat cukup. (puslapdik.dikdasmen.go.id)

Kondisi ini mendorong pertanyaan, bagaimana kebiasaan singkat seperti pembacaan surah pendek bisa menjadi fondasi implementasi kebiasaan karakter di sekolah?

Tantangan

Tugas utama saya sebagai wali kelas mengintegrasikan kebiasaan pembacaan surah pendek sebagai fondasi pembiasaan karakter agar menjadi holistik dan berkelanjutan dalam praktik harian untuk:

  1. Menanamkan kebiasaan beribadah sebagai bagian dari rutinitas belajar dimulai dari pembiasaan kecil di sekolah dengan membaca surah-surah pendek sebelum pembelajaran dimulai.
  2. Menghubungkan suasana pembiasaan dengan disiplin waktu (bangun pagi), minat belajar, dan kesadaran nilai (gemar belajar, makan bergizi, bermasyarakat, tidur cukup).
  3. Melibatkan guru, murid, dan orang tua dalam sinergi membentuk karakter.

Aksi

Langkah-langkah yang saya lakukan:

  1. Pembiasaan Awal Hari

Saya sebagai wali kelas memulai pembelajaran dengan membaca surah-surah pendek dari juz Amma seperti membaca Surah Al-Fatihah, Surah Al-Falaq, Surah Al-Ikhlas dan Surah An-Nas. Kegiatan pembiasaan ini dilakukan sebelum pembelajaran berlangsung yaitu salah satu murid laki-laki memimpin bacaan surah pendek dengan ta’awudz dan basmalah, kemudian melantunkan ayat per ayat dengan tartil dan diikuti murid lainnya secara bergantian dalam setiap harinya sesuai jadwal yang sudah disepakati bersama. Aktivitas ini secara langsung menerapkan kebiasaan beribadah karena menumbuhkan kesadaran spiritual dan moral.

Figure 1. Pembiasaan Membaca Surah Pendek.

  1. Teladan Wali Kelas

Saya sebagai wali kelas secara konsisten tiba di kelas lebih awal (bangun pagi), memimpin pembiasaan spiritual, menunjukkan pola hidup sehat dan teratur. Selama membaca surah pendek, saya juga mengajak murid menghayati makna yaitu menggabungkan kebiasaan beribadah dengan refleksi intrapersonal.

Figure 2. Mengajak murid menghayati makna yaitu menggabungkan kebiasaan beribadah dengan refleksi intrapersonal.

  1. Penghubung Kebiasaan Lain
  2. Setelah pembacaan surah pendek, dilanjutkan dengan senam atau aktivitas sederhana sebagai simbol olahraga ringan dan membangun semangat pagi sambil menunggu pergantian jam p
  3. Saya selalu menyisipkan pengingat tentang makan sehat, belajar penuh semangat, dan pentingnya istirahat cukup.

Figure 3. Aktivitas sederhana sebagai simbol olahraga ringan.

  1. Pujian dan Penguatan Positif

Bila ada murid menunjukkan perilaku sesuai kebiasaan minggu lalu (misalnya disiplin bangun pagi sehingga tidak pernah terlambat masuk sekolah), saya memberikan pujian langsung di depan kelas.

  1. Kolaborasi dengan Orang Tua dan Wali Kelas

Saya meminta orang tua untuk menindak lanjuti di rumah melalui catatan harian atau jurnal bahkan terkadang lewat obrolan grup whatsApp kelas khusus orang tua, memberi validasi jika anak juga membaca surah pendek atau berdoa sebelum belajar yaitu dengan memanfaatkan prinsip jurnal harian dan evaluasi kolaboratif.

Refleksi, Hasil dan Dampak

Peningkatan disiplin spiritual dan mental, anak bisa mengembangkan rasa tenang, focus, dan kesadaran spiritual sebagai modal menghadapi pembelajaran serta beribadah menjadi kebiasaan alami.

Budaya sekolah berkarakter, kelas menjadi lebih harmonis, suasana belajar penuh ketenangan dan konsentrasi.

Kebiasaan terintegrasi melalui pembiasaan ini, kebiasaan lain seperti bangun pagi, gemar belajar, berolahraga ringan, dan tidur cukup terinternalisasi dalam keseharian murid.

Keterlibatan orang tua dalam maupun luar kelas menjadi kompak menciptakan sinergi antara sekolah dan rumah dalam membentuk karakter anak.

 

Tips dari Saya

Berikut beberapa tips agar pendekatan ini efektif di sekolah:

  1. Konsistensi Adalah Kunci

Jalankan kebiasaan setiap hari awal pembelajaran agar membangun kebiasaan alami secara bertahap.

  1. Sederhana tapi Bermakna

Pilih surah pendek yang mudah dibaca atau yang sudah hafal dan dipahami, serta beri pengertian sederhana bagi anak agar terasa bermakna.

  1. Libatkan Semua Pihak

Selalu komunikasikan inisiatif ini ke orang tua. Dukungan timbal balik memperkuat pembiasaan.

  1. Kaitkan dengan Rutinitas Sehari-hari

Tautkan pembiasaan spiritual dengan kebiasaan lain seperti senam, waktu membaca, asupan makanan sehat, dan waktu tidur cukup.

  1. Teladan Nyata Guru

Guru yang konsisten menjalankan nilai-nilai ini akan memotivasi murid meneladani secara otomatis.

  1. Refleksi dan Evaluasi

Ajak murid bercerita tentang bagaimana perasaan mereka setelah pembiasaan pagi atau bagaimana orang tua mendampingi di rumah.

 

Kesimpulan

Melalui praktik baik dengan pembiasaan sederhana saya sebagai wali kelas membaca surah pendek sebelum pembelajaran dimulai bisa menjadi pemantik kuat bagi implementasi 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Pembiasaan ini tidak hanya menumbuhkan spiritualitas dan disiplin, namun menjalin koneksi penting antara bangun pagi, gemar belajar, olahraga, makan sehat, bermasyarakat, dan istirahat cukup.

Dengan dukungan konsisten dari saya sebagai wali kelas, kerjasama orang tua, dan pendekatan kolaboratif sekolah, pembiasaan spiritual pagi hari menjadi katalis perubahan karakter anak secara menyeluruh. Hasilnya adalah generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sehat, berkarakter, dan siap mengawal masa depan Indonesia Emas 2045.

 

Profil Penulis: Fety Adi Setyana, S.Pd.,Gr., Guru Penggerak Angkatan 7, Pengajar Praktik Guru Penggerak Angkatan 11, Guru Mata Pelajaran Bahasa Inggris di SMPN 1 Bengalon. Saat ini, sementara telah menulis 1 buku solo, 18 buku antologi, Penulis di DEMO GOG International Magazine dan Masuk dalam Hyperpoem World Records.

 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait